Satu Rasa di Pasir Sine

Menjemput Rindu di Pantai Sine

Catatan Senja Alustama88


Di bawah langit sore Pantai Sine yang perlahan berubah keemasan, deburan ombak pantai selatan terdengar seperti melodi yang tak pernah menua. Di sinilah kami berkumpul, para paruh baya yang membawa kembali renyah tawa masa remaja puluhan tahun lalu. Kami adalah Alustama88, alumni SMA Taman Madya Malang lulusan 1988, yang hari itu memutuskan untuk sejenak melepas penat dan menjemput ketenangan di tepi pantai.

Bagi Alustama88, Pantai Sine bukan sekadar destinasi wisata. Hamparan pasirnya yang luas dan ombaknya yang gigih memecah karang, adalah simbol dari perjalanan hidup kami. Setelah lebih dari tiga dekade menutup buku sekolah, hari itu semua ego melebur walau tanpa kehadiran guru. Tidak ada lagi yang merasa paling sukses atau sebaliknya; yang tersisa hanyalah anak-anak SMA tahun 88 yang kembali menemukan ruang kelasnya.

Bahkan, hangatnya kebersamaan dan riuhnya suasana sudah pecah sejak sebelum kami berangkat. Keceriaan itu terus terbawa ke dalam bus sepanjang perjalanan, hingga akhirnya tikar-tikar digelar di bawah rindangnya pepohonan tepi pantai. Riuh tawa kami selaras dengan angin laut yang berembus segar, membawa aroma masakan rumah yang kami siapkan bersama-sama.

Saling Mengisi dan Merangkul

Di tepi pantai, semua saling mengisi. Ada yang sibuk merebus air untuk menyeduh kopi sambil melempar guyonan masa lalu, ada yang asyik berfoto dengan latar belakang bukit-bukit karang yang bersandar pada ombak, dan ada pula yang sekadar duduk melingkar, mendengarkan kisah tentang tantangan hidup yang berhasil dilewati. Harmoni yang tercipta terasa begitu syahdu dan hangat.

Ketika matahari mulai condong ke barat, memancarkan rona merah jingga di cakrawala Pantai Sine, obrolan kami perlahan berubah menjadi lebih dalam, diselingi tawa yang lepas. Kami berdiri bersama di bibir pantai, membiarkan ombak tipis sesekali membasahi kaki.

"Kami sudah tidak muda lagi,"Tapi melihat kamk bisa berkumpul seperti ini, rasanya waktu seperti berhenti."

Perbedaan apa pun yang pernah ada, rasanya ikut tenggelam bersama matahari sore itu. Kami sadar, dunia di luar sana terus berubah, sering kali penuh sekat dan hiruk-pikuk yang melelahkan. Namun, di dalam lingkaran Alustama88, kami menemukan penawarnya: sebuah kerukunan tulus yang dirawat oleh rasa saling menghargai dan memori masa lalu yang ihklas.

Merajut Masa Depan Bersama

Sore itu, di Pantai Sine, sebuah janji tak terucap tersirat di antara desis pasir yang disapu riak ombak. Meski tanpa ikatan formal, kami semua berharap keakraban ini tidak akan pernah memudar ditelan usia.

Piknik ini bukan sekadar ajang nostalgia, melainkan bahan bakar baru untuk terus melangkah. Kami pulang dengan pasir yang menempel di alas kaki, wajah yang merona terbakar matahari, dan hati yang penuh oleh bahagia.

Alustama88 telah membuktikan bahwa selama masih ada kepedulian dan keinginan untuk saling merangkul, kerukunan serta kebersamaan akan selalu menemukan jalan untuk pulang. Sehangat senja yang menutup hari di Pantai Sine.

Salam

Senja Sine ☕︎