Catatan Halal Bihalal di Waroeng Tani
Waktu boleh saja terus melangkah jauh, membawa kita pada lembar demi lembar kehidupan yang berbeda. Rambut mungkin mulai memutih, dan garis wajah tak lagi sama seperti saat kita masih mengenakan seragam putih-abu-abu di SMA Taman Madya Malang puluhan tahun silam. Namun, kemarin tanggal 01 Juni 2021, waktu seolah berhenti berputar, membawa kita kembali pada esensi persahabatan yang sesungguhnya.
Siang itu, di bawah langit Waroeng Tani, Dau, Malang, sebuah kerinduan yang tertahan sekian lama akhirnya tumpah. Kita—keluarga besar Alustama88—kembali bersatu dalam hangatnya acara Halal Bihalal.
Ada keajaiban yang luar biasa hari itu. Tanpa adanya sekat birokrasi, tanpa pembentukan panitia yang formal dan kaku, acara ini berjalan dengan begitu sukses, mengalir begitu saja layaknya air yang tenang. Semuanya bergerak atas dasar satu hal: ketulusan dan rasa rindu.
Tawa, Nada, dan Langkah yang Tak Lagi Muda
Suasana hangat silaturahmi langsung terasa begitu kaki melangkah memasuki pendopo Waroeng Tani. Pelukan hangat, jabat tangan yang erat, dan untaian maaf yang tulus saling bertukar. Kita melepas sejenak beban dunia orang dewasa untuk kembali menjadi "anak-anak SMA" tahun 1988.
Ketegangan hidup mendadak cair saat alunan musik elektone mulai menggema. Di sana, kita tidak hanya makan bersama, tetapi juga bernyanyi dan berjoget tanpa beban. Menyanyikan lagu-lagu irama dangdut yang rancak, menertawakan langkah kaki yang tak lagi seberingas dulu, namun merasakan denyut kebahagiaan yang sama persis seperti tiga dekade yang lalu.
Ketulusan yang Mengetuk Pintu Langit
Namun, momen yang paling menggetarkan dada dan menyentuh palung hati terdalam adalah ketika ruang nostalgia itu berubah menjadi ruang kasih sayang yang nyata. Hari itu, ingatan dan doa kita tertuju pada salah satu sahabat tercinta kita, Nursiamah, yang sedang berjuang melawan sakit kanker.
Di tengah gelak tawa, terselip rasa empati yang mendalam. Penggalangan dana spontan pun diadakan. Tidak peduli seberapa besar nominalnya, setiap lembar uang yang terkumpul adalah simbol dari doa, cinta, dan dukungan agar Nursiamah tidak merasa sendirian dalam perjuangannya. Sore itu, Tuhan menyaksikan bagaimana Alustama88 bergerak dengan hati.
Donasi sebesar 772 ribu rupiah berhasil terkumpul dan langsung diserahkan hari itu juga kepada Nursiamah. Nilai yang mungkin sederhana bagi dunia, namun tak ternilai harganya sebagai bukti bahwa persahabatan kita tidak pernah luntur oleh waktu dan jarak. Kita adalah keluarga, dan dalam keluarga, tidak ada yang ditinggalkan sendirian saat badai datang.
Untaian Terima Kasih dari Lubuk Hati
Sore yang indah itu tidak akan pernah terukir dalam sejarah Alustama88 tanpa orang-orang berhati emas di balik layar:
01 Juni 2021 telah berlalu, namun kehangatan di Waroeng Tani akan selalu menetap di sudut hati kita yang paling dalam. Terima kasih, Alustama88. Terima kasih karena telah menjaga api persaudaraan ini tetap menyala. Hingga kita bertemu lagi di ruang rindu berikutnya, sehat-sehat selalu sahabat-sahabatku...